Kamis, 04 September 2014

Teruntuk malaikatku

Malam ini bulan tak bulat sempurna, bintang pun sembunyi di balik gelapnya malam, tak terlihat satupun dari mereka. Yang ada hanya sunyi, pukul sudah hampir menunjukkan ke pergantian hari dan aku masih terjaga sendirian. Jika sudah seperti ini, satu per satu pikiran yang mengganggu pun berdatangan. Banyak yang ingin ku ceritakan pada bulan dan bintang. Hanya sekedar untuk mendengarkan kejenuhan, kebosanan ataupun kesedihan yang ada. Ah, hidup memang tak ada yang sempurna, tapi sebisa mungkin aku selalu ingin bahagia. Banyak permasalahan yang mungkin sulit untuk diceritakan langsung lewat bibir, karena hati yang terus menutupi apa yang sebenarnya terjadi. Aku ingin merasakan kebahagiaan yang utuh dari mereka orang orang terdekatku, terutama keluarga. Apa arti keluarga? Tempat dimana meminta perlindungan saat orang orang tak ada yg menerima kita. Jauh dari kata sempurna, itu aku. Dimana perlindungan yang aku cari? Apa sudah ku dapatkan? Apa aku merasakannya? Tapi setidaknya ada seorang malaikat di dalam rumah yang sederhana itu. Beliau yang merawat kita dari kecil, berjuang dari kerasnya atau bahkan kejamnya kehidupan? Haha, mungkin terlihat berlebihan, tapi itu kenyataannya. Mata yang sudah mulai terlihat lelah tapi selalu berusaha tegar, rambut yang sudah mulai beruban tapi tetap berjuang, kulit yang mulai keriput tapi tetap tersenyum melihat buah hatinya satu persatu beranjak dewasa. Sebisa mungkin semua terlihat baik baik saja. Ada air mata yang selalu keluar di setiap doa doa mu, mengeluarkan keluh kesah tapi tak di depan buah hatimu, pipi terlihat kering setelah selesai sembahyang , walaupun mata masih sembab, tapi senyum tetap terpancar. Dan aku menyadari apa yang baru saja terjadi, selalu begitu. Jika boleh, aku ingin mengambil seluruh beban yang ada di dua pundak itu, agar bebanmu berkurang, atau bahkan hilang, biar kami yang meneruskan perjuangan ini. Teruntuk yang kami sayang, beristirahatlah,sekarang waktunya melihat anak anakmu yang berjuang untukmu, sehat terus ya! Ibu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar